Surat untuk Ayah,
Perjalanan hidupku memang terlalu
panjang dan melelahkan, walaupun aku belum mengakhirinya. Tapi saat aku
mengakhirinya aku harap aku melakukannya dengan anggun, seperti yang Albert
Einsten katakan.
Terlau banyak obat yang harus kutelan
selama hidupku. Mereka semua mengerikan, kau tau itu. Tapi aku sadar mereka
yang membuatku bertahan lebih lama. Setiap mereka menambah satu detik waktu
untuk aku tetap bermimpi dan berharap.
Ya, benar Ayah “Mimpi”. Aku bermimpi dan
kita semua bermimpi. Ini bukan soal mimpi yang waktu tidur aku mengalaminya
seperti dunia nyata lalu saat pagi aku bangun dan bertanya-tanya apa arti mimpi
itu? Sekedar bunga tidurkah? Atau sebuah tanda dari Tuhan?
Semua ini tentang mimpi yang membuat aku
percaya pada kekuatan Tuhan. Mimpi yang membuat aku mengejar segalanya dan
terus melalui hidup yang berat. Tetapi saat aku dengan bangga menceritakannya
kepadamu, engkau berkata “Jangan bermimpi terlalu jauh..”. Itu sangat
menyakitkanku dan menyentakku, lantas aku bertanya-tanya.. bukankah engkau yang
mengajariku untu tidak menjadi orang yang biasa-biasa saja? Untuk apa engkau
menanamkan semangat yang membuatku berbeda dengan orang lain? Kemudian engkau menghancurkannya
hanya dengan satu kalimat? Apa arti cambukmu selama ini? Ayah, tidakkah kau
ingin melihat aku berdiri tegar sebagai seorang pemenang?
Aku memang anakmu, tapi sekaranglah
waktunya engkau melepaskanku untuk menjadi manusia yang mandiri. Jangan takut,
sebab walaupun aku jatuh aku berjanji aku akan bangkit lagi. Kemanapun aku
pergi engkau tak perlu khawatir sebab dimanapun aku berada aku tetap anakmu dan
engkau tetap ayahku, tak ada yang bisa mengubah itu.
Aku hanya butuk ijinmu untuk membuktikan
bahwa aku bisa. Aku akan menjadi orang yang luar biasa seperti yang engkau
harapkan. Jangan merasa sayang untu melepaskanku. Aku tak akan pernah seimbang
untuk berjalan sendiri kalau engkau tak pernah melepaskan peganganmu.
#EL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar